Tanya dan Belajar

Akhirnya kembali meminjam laptop kakak kelasku di kampus, dia sedang sakit sepertinya. yasudah dari pada mubazir kan aku pakai saja sebagai alat penyimpan ingatanku kembali.

Ini sedang menjadi panas, baik mengenai cuaca maupun jiwa, ingin mandi tapi bagaimana bisa mandi karena sedang di kampus. Sekarang mahasiswa bertransformasi menjadi peternak ikan cupang, mungkin gara-gara sebentar lagi bulan puasa, jadi teman-temanku nanti beli baju lebaran dengan uang hasil penjualan ikan cupang, ya seperti bisnis kecil-kecilan, padahal kasihan ikannya hanya ada empat ekor. Yaaa… namanya juga usaha.

Seperti biasa aku akan memulai dengan sebuah pertanyaan, tapi aku bingung mau menanyakan apa, ada yang bisa membantu?

Nah itu pertanyaan pertama.

Sebelum aku menulis kalimat ini, aku menulis “Aku akan menulis tentang kebenaran alasan seseorang.”, tapi menurutku itu terlalu rasis kepada kalangan yang memiliki kebenaran, dan bagaimana jika kalangan yang memiliki kesalahan? Apakah tidak termasuk kedalamanya atau yaaaa lagi-lagi tersambung dengan pertanyaan.

Apakah butuh gladiresik untuk sebuah kehidupan? Akankah itu dibutuhkan untuk menjadikan aku seorang yang akan masuk surga kelak. Lama sekali sepertinya persiapan untuk ‘hidup’ ditambah latihan lalu gladi. Tapi Tuhan terlalu percaya sehingga kita tidak perlu disibukan dengan berbagai macam latihan dan gladi untuk menampilkan nyanyian-nyanyian kehidupan. Maka kita keren.

Bagaimana manusia belajar berkedip dan bagaimana manusia belajar untuk menghentikan ketergantungan akan berkedip.

Bagaimana manusia belajar mendetakkan jantung dan bagaimana manusia belajar berhenti dari ketergantungan mendetakkan jantung.

Bagaimana manusia belajar bernafas dan bagaimana manusia belajar berhenti dari ketergantungn bernafas.

Bagaimana manusia belajar menatap kehidupan dan bagaimana manusia berhenti dari ketergantungan menatap kehidupan.

Bagaimana manusia belajar bertanya dan bagaimana manusia berhenti dari ketergantungan bertanya.

Maka aku menyimpulkan itu bukanlah sebuah pertanyaan karena tidak ada satupun tanda tanya di dalamnya. Dengan penyampaian intonasi yang biasa saja, karena itu merupakan pernyataan. Tidak usah dijawab, karena itu bukan pertanyaan dan jika itu pertanyaan maka sebenarnya tidak semua pertanyaan harus selalu dijawab.

Sudah, mari kita minum teh dingin sambil tidur, selamat siang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s