Manusia

Hallo selamat senja disini, aku sedang di kampus menjadi penguasa salah satu ruangan dan sebuah benda canggih. Dengan lelaguan tentang senja dan kekerenanku aku mulai memberanikan diri menyimpan beberapa kata disini, karena ternyata hampir saja aku amnesia. Masih dengan suasana bersalam-salaman sekarang, trend terbaru.

Aku tidak akan memulainya dengan pertanyaan lagi, itupun jika aku ingat, atau pura-pura ingat. Kehidupanku terdiri dari beberapa lapis perasaan yang saling bertumpuk teratur. Dimulai dari rasa bersalah sampai menyalahi. Jangan berpura-pura tidak butuh manusia lain, itupun jika aku mengakui bahwa aku manusia. Bawalah manusia lain ke dalam bingkai matamu, satu bingkai atau orang gaul bilang ‘frame’ , dengan berbagai objek yang tidak selalu harus disukai. Karena sebuah drama saja terlalu aneh jika semua atmosfernya disukai.

Jangan dibaca, lihat saja, karena aku terlalu takut masuk kantor polisi setelah memabukan pihak lain karena tulisanku yang aku sendiri tidak tau isinya apa, aku hanya tau fungsinya, ya, alat penyimpan ingatan.

Aku sudah terlalu sakaw untuk memberi pernyataan, bagaimana manusia bisa merindukan manusia lain yang masih hidup?

Aku anggap rindu itu adalah salah satu selebrasi pemikiran seseorang dengan tujuan mengulang sesuatu yang telah terjadi. Bedakan tentang rindu dan harapan.

Aku sudah mulai terpengaruhi sastra yang memaksaku untuk menulis sebuah cerita fiksi, tapi tenang saja, karena lelaguan senja ini salah satu kompas pemikiranku agar tetap berjalan di atas kebenaran, dan karena aku keren. Aku sedang berdoa pada Tuhan, untuk membiarkan mata anak kecil tertutup dari berbagai teriakan orang diatas mereka, dan telinganya terhalangi pemandangan surga yang bisa saja menjadi haknya. Karena orang yang kusebut diatas mereka itu adalah orang yang terlalu amnesia untuk menenangkan anaknya, terlalu sadis untuk berkelahi dengan peperangan di depan matanya, terlalu bising untuk mencaci manusia lain di dekat telinga anak kecil malang. Dan aku selalu yakin bahwa Tuhan ada bersama anak kecil itu.

Tetap menjadi pemeran utamalah dihidupmu, jangan biarkan orang yang manusia sebut ‘motivator’ mengubah keseluruhan peranmu, karena sesungguhnya tidak ada motivator selain dirimu sendiri. Kecuali inspirator, mereka ada, dan berinspiratorkan manusia yang pernah salah dan memperbaikinyalah, jangan yang teriak sampai langit, tanpa tau isi bumi.

Selamat senja.

Advertisements

3 thoughts on “Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s