Keluhan

 

Halo selamat siang karena ini siang, dengan keadaan membasah di setiap pori-pori kulit, ini disebut dengan kegerahan.

Aku sedang meminjam lag laptop teman sekelasku, dia sedang bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan yang haru dijawab dengan jawaban yang diinginkan pembuat pertanyaan, ya itu hal yang sebenarnya tidak perlu, tapi karena di kampusku tidak boleh lulus apabila tidak punya rangkaian angka-angka hasil jawaban pertanyaan tersebut maka kata lulus akan menghindar.

Manusia diciptakan dengan keadaan yang berbeda –beda namun sama-sama memerlukan senyawa yang sama untuk melangsungkan kegiatan nafasnya. Dengan perbedaan tentang kepercayaan maka aku akan menyimpan ingatanku sekarang ini. Perbedaan dengan bagaimana seseorang memuja sesuatu yang dianggap agung dan merupakan petunjuk hidupnya. Jika dikaitkan dengan kebersamaan antar kepercayaan itu aku yakin banyak perdebatan.

Mari berbicara tentang cinta, dimana cinta adalah satu kata yang danggap universal, setiap orang memiliki rasa itu termasuk orang yang dengan sebutan “jahat”. Da akan mencintai apa yang dilakukannya. Aku bukan seorang pakar cinta dengan selalu tersenyum dan dengan nada bicara lembut juga semua penglihatan yang dilihat dari sudut pandang cinta.

Aku sudah mulai lupa akan menyimpan apa lagi. Tapi rasa maunya masih ada untuk menyimpan sesuatu.

Seseorang tidak akan mengeluh jika ia tidak merasa resah, seseorang akan resah ketika ia tidak tau apa hikmah dari semua keadaan yang ia terima. Suatu keadaan dan kejadian di dalam sebuah kehidupan sudah terkordinir rapih, sudah terhitung berapa banyak keluhan yang akan dikeluarkan. Tapi menurutku dengan mengeluh hanya akan mengeluarkan 3% dari rasa resah itu sendiri, dengan 97% masih tersimpan di dalam diri. Tapi aku yakin keluhan adalah selebrasi, selebrasi yang tidak diperankan sebagai cara menyelesaikan masalah. 97% itu akan semakin lenyap dengan cara menyelesaikannya, anggap saja sedang bermain game dengan level yang bertingkat, bermain game yang harus dilewati dengan berbagai cara sesuai dengan misinya. Dan percaya saja bahwa Tuhan tidak akan membuat “games” tanpa tujuan dan tanpa akhir yang jelas. Mengeluh tidak akan membuat kertas yang sobek menjadi utuh kembali.

Terlalu serius untuk dibaca, ya? Maka jangan dibaca, cukup dilihat saja.

Yah aku sudah malas, mari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s